Langkah Nyata PKBM Harapan Bangsa Menjangkau 8.977 Anak Tidak Sekolah di Kota Kupang
Angka 8.977 Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kota Kupang yang dirilis oleh BPMP bersama UNICEF bukanlah sekadar deretan digit statistik, melainkan potret buram dari hak-hak dasar anak bangsa yang terhenti di tengah jalan. Ketika angka tersebut tidak kunjung menunjukkan pemulihan signifikan sejak tahun lalu, berdiam diri di balik meja kepemimpinan tentu bukan lagi sebuah pilihan.
Hari ini, pergerakan serentak para guru dan perwakilan peserta didik PKBM Harapan Bangsa yang menyisir titik-titik simpul rawan ATS—seperti Pasar Oebobo, Oeba, Kuanino, Naikoten 1, Oesapa, Oepura, hingga Penfui—adalah manifestasi nyata dari kesadaran sosial dan keberanian bertindak. Mengunjungi pusat-pusat kegiatan ekonomi warga dan kawasan padat penduduk dengan menyebarkan brosur pendaftaran bukan hanya soal menjaring warga belajar baru, melainkan sebuah gerakan pemulihan hak pendidikan.
Langkah lapangan ini mempertegas peran PKBM Harapan Bangsa sebagai role model satuan pendidikan nonformal yang responsif dan berpihak pada masyarakat marjinal. Ketika anak-anak ini berhasil dikembalikan ke bangku persekolahan, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi capaian kelembagaan, tetapi juga indikator awal keberhasilan Pemerintah Daerah dalam membangun kesadaran kolektif warga akan pentingnya pendidikan berkelanjutan.
Pendidikan adalah kebutuhan dasar yang menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Kota Kupang. Melalui strategi jemput bola yang digerakkan dengan semangat pengabdian ini, diharapkan resistensi dan ketidakpedulian masyarakat terhadap pendidikan dapat terkikis, berganti menjadi kesadaran bahwa setiap anak NTT berhak atas masa depan yang lebih cerah.
Menanggapi kondisi tersebut, tim gabungan yang terdiri dari jajaran pendidik (guru) dan perwakilan peserta didik PKBM Harapan Bangsa secara serentak turun ke jalan untuk melakukan aksi penyebaran brosur pendaftaran. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan hak pendidikan anak-anak ATS agar dapat kembali mengenyam proses pembelajaran yang layak dan berkualitas.
Penyisiran dan distribusi informasi dilakukan secara intensif di sejumlah titik simpul rawan ATS yang tersebar di wilayah Kota Kupang, antara lain:
-
Pasar Oebobo
-
Pasar Oeba
-
Kuanino
-
Naikoten 1
-
Oesapa
-
Oepura
-
Penfui
Aksi lapangan ini berlandaskan pada semangat konsep dasar pendidikan nonformal yang memposisikan PKBM Harapan Bangsa sebagai role model dalam penuntasan masalah sosial-pendidikan di Nusa Tenggara Timur.
“Kembalinya anak-anak ATS ke bangku sekolah bukan sekadar keberhasilan lembaga, melainkan titik awal keberhasilan Pemerintah Daerah dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan berkelanjutan. Langkah ini adalah kontribusi nyata bagi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kota Kupang,” ungkap (Petrus Allung, S.H), selaku Direktur PKBM Harapan Bangsa sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pelatihan (YAPENDIKLAT) NTT.
Melalui strategi penjangkauan langsung ini, PKBM Harapan Bangsa berharap dapat mengubah persepsi dan meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi bagi setiap anak indonesia dan seluruh warga negara, Khususnya di Kota Kupang. pintanya.

Untuk Mengetahui Liputan Kegiatan selengkapnya bisa diakses klik Tautan berikut ini: https://padlet.com/pkbmhb013/breakout-room/eXwgvwGxVekyvybR-W7ZVbeWllrPgXNDM
Bagikan: